Rabu, Oktober 11, 2023

Bercerita Tentang Bapak Kita

sumber foto: fineartamerica

Pekan lalu, saya berbincang dengan seorang kawan seusai sebuah acara perayaan. Kami memesan minuman di kedai kecil lalu berbincang dari topik satu ke topik lainnya. Lalu kami beranjak ke topik keluarga. Memang, topik keluarga sejatinya bukanlah sebuah topik yang mudah untuk dibicarakan ke satu sama lain. Butuh keberanian dan juga kerapuhan yang terang-terangan ditunjukkan untuk bisa terhubung sampai ke topik tersebut. Ya, kami mulai cair ke arah sana. Spesifiknya mengobrol soal bapak kami satu sama lain.

Bermula dari bagaimana bapak saya tumbuh besar. Bapak saya bertumbuh di suatu daerah di Jawa Tengah dengan budaya komunal yang sangat lekat dengannya. Kalau kata orang-orang sih guyub. Jelas saja, ia lahir sebagai anak ke tujuh dari sembilan bersaudara, sebagai anak laki-laki terakhir, karena adik-adiknya perempuan semua. Apa yang terbayangkan dengan latar belakang tersebut? Ya, tentu saja sistem hierarki keluarga. Siapa abang, siapa kakak, siapa adik, semuanya sudah mesti tahu posisinya dan tak lupa panggilan sapaan hierarkis, seperti 'Mas' dan 'Mbak'.

Bagi saya yang tumbuh besar di kota metropolitan sedari kecil sampai detik ini, hal itu saja sudah membuat mata terbelalak. Bukan soal panggilan sapaan hierarkis, namun hidup bersama dengan kakak dan adik sebanyak itu ditambah lagi bapak dan ibu. Satu rumah bisa sampai bersebelas. Sederhananya, ruwet bagi saya yang kalau melihat kerumunan di mall rasanya ingin kabur secepatnya, karena energi sosial saya cukup minim sebagai seorang introvert.

Mengenai masa kecilnya seperti apa, saya hanya bisa menebak. Pernah suatu waktu di masa liburan caturwulan semasa SD kami sekeluarga pulang kampung ke kampung bapak saya, di lereng Gunung Merapi. Pada masa itu di tahun 2000an awal, sejauh mata memandang adalah hamparan sawah nan hijau, parit kecil yang mengelilinginya, dan kebun tembakau. Ada pula sungai dan bendungan yang airnya jernih sekali dengan bebatuan besar sisa-sisa semburan vulkanik. Dalam bayangan saya, pastilah masa kecil di daerah seperti ini sangat menyenangkan-di luar dari hidup bersebelas tadi. Tapi bukankah, hidup di lingkungan yang se-asri itu juga barang tentu sepadan dengan konsekuensi bahwa kita mesti guyub dengan keluarga dan tetangga sekitar. Buktinya, saat saya berlibur di kampung bapak, semua orang yang lewat dan berpapasan sudah pasti menyapa dan berhenti sejenak untuk basa-basi.

Saya tidak benar-benar mengenal bapak saya dan masa kecilnya. Atau boleh jadi, memang tidak mengenal. Saat pertengahan kelas 3 atau 4 SD bapak saya baru saja mendapat pekerjaan tetap yang mengharuskan dia ke luar pulau Jawa selama beberapa waktu. Sebetulnya saya juga lupa kurun waktu pastinya, karena beberapa memori itu sudah saya reduksi. Itu adalah momen saya tahu bahwa bapak saya tidak akan lagi menjadi seorang pengangguran atau kerja serabutan. Momen yang membingungkan. Di satu sisi tugasnya sebagai pencari nafkah baru saja dimulai. Tapi di sisi lain, dia tidak ada di sisi kami, bersama di hari-hari kami. Sekejap dari momen itu, saya lupa jika saya punya bapak. Karena ia lama sekali pulang ke rumah.

Obrolan saya dan kawan saya di kedai mengalir begitu saja. Seraya ia menyeruput es thai tea dan saya hanya menghabiskan air mineral dari botol kemasan. Perbincangan soal bapak belum usai.

Kawan saya bercerita tentang bapaknya yang seorang peminum (minuman beralkohol). Kalau sudah mabuk, pastilah anak jadi sasaran pukul jika tidak patuh dengan ucapannya. Tapi hal itu hanya terjadi pada anak, tidak dengan istri. Pada istrinya, dia laki-laki yang bisa diandalkan. Seorang suami yang memberikan penghidupan layak dan juga menyerahkan pengelolaan keuangan pada istri secara penuh. Bahkan rela pasang badan jika istrinya dibahas-bahas oleh keluarga besarnya. 

Sedih. Empati saya terenyuh saat mendengar cerita kawan saya dan traumanya. Ada juga perasaan heran, dan bertanya dalam hati apakah bapak saya saja yang tidak tahu caranya memberikan penghidupan yang layak? Apakah hanya dia yang setelah mendapat penghidupan layak malah lantas meninggalkan kami?

Kelas 4 SD akhir kalau tidak salah, bapak sempat pulang sejenak dari luar pulau. Seingat saya dulu tidak ada momen selebrasi atau semacamnya. Saya hanya ingat kami sempat menjemput bapak ke bandara lalu pulang. Tidak ada kado, oleh-oleh, atau semacamnya. Bapak hanya menunjukkan foto-foto selama ia bekerja. Foto bersama kawan di pekerjaannya yang saat itu di bidang hiburan. Ada perasaan canggung saat berinteraksi dengan bapak waktu itu, karena sekian lama kami tidak bertemu dan bapak hadir kembali dengan sesuatu yang berbeda. Entah apa.

Siang itu, saya pulang sekolah. Seperti biasa setelah ganti baju rumah dan istirahat sebentar biasanya saya pergi mengaji. Tapi nampaknya siang itu agenda mengaji harus diabaikan. Kamar tidur kami berempat dipenuhi barang-barang pasca bapak pulang. Di ranjang ada beberapa tupperware dengan isi perkakas random sampai obat-obatan. Tak tahu inisiatif dari mana kala itu, rasa penasaran saya muncul dan bertanya pada ibu, "kotak yang ini isinya apa sih?" sambil menunjuk ke arah kotak berukuran sedang berwarna transparan dengan tutup berwarna kuning. Ibu menjawab saat itu, "Ya, dibuka aja wong punya bapaknya sendiri".

Sejak itu, kamar kami porak poranda karena ibu mengamuk setelah melihat isi kotak tersebut.

Selembar foto dengan visual bapak dan seorang perempuan di pangkuannya. Jangan tanya selebihnya, karena foto itupun sudah langsung dirobek oleh ibu. Saya hanya bisa diam melihat ibu mengamuk tanpa sepatah kata. Boleh jadi saya polos karena saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Di usia saya saat itu, sulit untuk mencerna adegan tadi dengan proses yang cepat. Ditambah pula, hari-hari sebelumnya bapak memamerkan foto-fotonya bersama kawan selama kerja di luar pulau dengan ringan hati. Adegan itu sekilas seperti adegan di sinetron-sinetron tahun 1990-2000an awal.

Iya, dramatis.

Ternyata hari-hari setelah adegan itu berjalan aneh bagi saya. Konflik bapak ibu yang sebetulnya sudah terjadi sebelum itu, juga menambah berlapisnya konflik ini. Setelah terkatung-katung sekian tahun, akhirnya surat dari pengadilan agama datang juga. Tepat saat saya SMP kelas 1.

Momen yang ngeri saat itu. Sebab bayangan saya mengenai perceraian orang tua adalah harus memilih akan tinggal dengan siapa, persis seperti perseteruan selebriti ibukota di pemberitaan program gosip. Ternyata hal ngeri itu tidak terjadi. Tidak ada perseteruan atau perebutan anak. Semua hak pengasuhan diserahkan kepada ibu tanpa bertele-tele.

Belakangan saya tahu, semua itu karena bapak nikah lagi. Saya tahu belakangan. Setidaknya saya diberi tahu belakangan saat saya sudah dewasa, sudah punya pekerjaan saat itu oleh bapak langsung. Singkatnya, saya tahu belakangan ya sesederhana karena saya tidak mau tahu saja.

Bercerita tentang bapak, sepertinya tidak ada habisnya. Bukan kali pertama juga saya mendengar cerita tentang bapaknya kawan saya. Tanpa bermaksud menjadi kaum mendang-mending, ada juga bapaknya kawan saya yang malah diam-diam menikah lagi atas nasihat seorang pemuka agama tanpa menceraikan istri pertamanya. Secara teknis, poligami. Tapi bukankah syarat poligami dalam agama adalah 'mampu'? Karena nampaknya syarat tersebut tidak terpenuhi di garis start. Terutama finansial.

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak pembaca untuk bersyukur. Tidak sama sekali. Saya tidak merasa bersyukur karena bapak saya tidak memukul saya, alih-alih 'hanya' selingkuh dan menelantarkan keluarganya. Tidak begitu konsepnya. Saya rasa kita pantas kecewa dan marah dengan siapapun dia.

Mungkin karena kita masih hidup di tatanan dunia yang belum ideal, kita perlu mendidik dan mengajari anak laki-laki untuk tahu contoh-contoh sikap baik, menghargai, dan tanggung jawab. Tak lupa memberi pelajaran juga dari contoh yang buruk.

Kenapa harus anak laki-laki? Bukankah harusnya perempuan juga diajarkan konsep-konsep tadi?

Saya kira, anak perempuan sudah terlalu banyak tuntutan sedari kecil. Anak perempuan dibesarkan dengan khayalan utopis menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak, harus bisa mengerjakan pekerjaan domestik dan segala tetek bengek lainnya yang membuat muak. Sementara sejatinya perempuan juga bisa punya pilihan untuk tidak melakukan tuntutan sosial yang mendarah daging tersebut, tanpa menyakiti pilihan atau merugikan orang lain.

Sayangnya, tuntutan mengenai khayalan utopis tadi tidak ditanamkan kepada anak laki-laki. Anak laki-laki hanya tau bermain bersama teman-temannya, menjadi tangguh, pemberani, menjadi pemimpin di segala lini kehidupan, dan sifat-sifat maskulin lainnya yang membosankan. Mereka tidak diajari bagaimana caranya memeluk kesedihan, mempraktikkan kasih sayang dan bertutur lembut.

Setidaknya yang saya perhatikan begitu adanya. Cerita kawan-kawan saya tentang bapak-bapak mereka, sudah cukup bagi saya. Saya tidak berharap cerita manis seperti kisah populer Sabtu Bersama Bapak-yang saya sendiri tidak membaca buku ataupun menonton filmnya, karena menurut saya tidak relevan dengan hidup dan relasi saya dengan bapak.

Layaknya menonton film atau membaca buku, kita bisa memilih film dan buku apa saja yang akan kita nikmati, kapan dan di mana. Pun idealnya kita bisa memilih jalan hidup dan keputusan kita tanpa paksaan. Namun tentunya kita tidak bisa memilih akan dilahirkan dari orang tua yang mana.

--

Jakarta, 16 Februari 2023 - 03:39 WIB

Selasa, Februari 07, 2023

Lama Tak Bersua

Halo, apa kabar?

Barangkali itu yang pertama saya sampaikan sesaat membuka blog lama ini. Unggahan terakhir saya tertanda di tahun 2016. Di tahun-tahun sesudahnya sepertinya ada juga hal-hal yang saya tulis namun berakhir diarsipkan atau menjadi draft saja.

Rentang waktu yang lumayan jauh sampai dengan saat ini, 2023. Ada banyak hal yang terjadi, terlewat, dan terkenang. Ada kalanya diingat jika itu membuat suka cita, tapi lebih nyaman jika tidak perlu diingat-ingat lagi. Delapan tahun berproses, terbentur, terbentur, dan terbentuk namun masih berproses. Melewati delapan tahun ini, saya cukup terlena dengan kehidupan sampai-sampai tidak pernah lagi meluangkan waktu untuk menulis panjang di sini.

Kalau boleh saya rekap tahun panjang ini, saya cukup bertumbuh di profesi saya saat ini. Suka duka tentu ada. Kehidupan pribadi yang bongkar pasang seperti puzzle juga ikut mewarnai proses delapan tahun ini. Pernah babak belur sesekali, dan sampai kini masih menyembuhkan luka-luka itu. Semua dijalani dengan lapang hati dan napas teratur.

Fiuh.

Di tengah malam ini saya mencoba mengisi kembali kolom kolom kosong di blog saya. Ditemani playlist lagu di spotify yang kebanyakan diisi lagu-lagu saat saya SMA dulu. Terbilang lawas, karena kalau dihitung-hitung sudah sepuluh tahun lebih. Akhir-akhir ini memang cukup banyak yang melintasi pikiran. Seringnya sih tidak penting-penting amat.

Namun semua hal yang melintas di pikiran tadi tidak akan menyingkir kalau tidak 'diwadahi'. Lucu juga bagaimana mereka membajak kapasitas otak saya sedemikian rupa. Well, itu dia. Hanya minta diberi jalan untuk lewat saja. Kadang-kadang saya menulis di note ponsel, lalu ia hilang. Pergi. Lega? Iya, lumayan. Tapi kemudian muncul lagi yang lain, singkatnya beranak pinak.

Saat ini pukul 02.07 WIB, sudah ngantuk, dan lagu-lagunya semakin sendu.

Oh iya, entah kenapa sebelum mengakhiri celotehan ini saya mau bilang terima kasih dan peluk virtual untuk orang-orang terkasih, sahabat, teman, bahkan kolega yang masih tulus memberikan perhatian, waktu, dan tenaganya untuk saya selama ini. Setidaknya dalam rentang waktu delapan tahun ini dan khususnya di saat-saat yang tidak mengenakkan dalam kurun waktu tersebut. 

Terima kasih ya, kalian.

Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberikan jalan di saat kalian berkesusahan.


---

Jakarta, 7 Februari 2023 | 02.13 WIB

#nowplaying Sara Bareilles - She Used To Be Mine

Rabu, Agustus 31, 2016

Kilas Balik: HORAS AMANG, Tiga Bulan yang Memberi Makna

Foto: Teater Legiun
Sabtu malam 27/08/2016, saya berkesempatan untuk menyaksikan sebuah pementasan teater yang berjudul Horas Amang di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan teater ini digagas oleh sebuah kelompok teater bernama Teater Legiun. Teater Legiun berawal dari kelompok teater gereja yang kemudian melebarkan sayapnya untuk dapat menebarkan nilai-nilai positif ke cakupan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat umum. Mereka memiliki tujuan yaitu mengedukasi masyarakat mengenai nilai-nilai/budi luhur melalui pertunjukkan teater. Tidak sampai di situ, mereka juga menyumbangkan hasil penjualan tiket pada tiap pertunjukkan mereka untuk pihak-pihak yang memerlukan bantuan finansial. Pada pementasan kali ini mereka menyumbangkan hasil penjualan tiket ke Komunitas Gumul Juang, sebuah organisasi pelayanan teologi sosial yang didirikan oleh beberapa alumni dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta serta salah seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara tahun 2009.

Pementasan yang berjudul Horas Amang ini merupakan produksi ke-9 Teater Legiun. Horas Amang berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari seorang duda, Amang Binsar Sagala (Amang, sebutan bapak dalam bahasa Batak) dan ketiga anaknya. Ketiga anaknya itu adalah Tarida, Maruli dan Pardamean (Dame). Mereka bertiga terbuai dengan hal-hal duniawi melalui karir, jabatan dan uang.

Tarida, si anak pertama dan perempuan satu-satunya, bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Hidupnya disibukkan dengan pekerjaannya tersebut. Terlebih apabila bosnya - Pak Boston, telah menelepon dan menginstruksikan hal-hal menyangkut pekerjaan di kantor. Anak kedua Amang Sagala bernama Maruli. Ia bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Hari-harinya hampir serupa dengan kakak sulungnya, disibukkan dengan pekerjaan. Sebagai dokter muda yang kinerjanya baik ia seringkali dipercaya atasannya - Pak William, untuk mengerjakan beberapa tugas penting. Terakhir, si bungsu, Pardamean atau yang kerap disapa Dame, adalah pemuda yang mencoba peruntungannya menjadi koki namun gagal karena ia keras kepala dan tidak bertanggung jawab. Kegemarannya berjudi membuat ia kewalahan dengan utang-utangnya.

Keluarga Amang Sagala hidup dan tinggal di sebuah permukiman bernama Kampung Toba. Kampung Toba bukanlah sebuah nama desa di Tapanuli melainkan sebuah permukiman bergaya Batak yang terletak di kota besar. Para perantau yang notabene adalah kelahiran Tapanuli, merasa senang tinggal di Kampung Toba karena dapat mengobati kerinduan mereka akan kampung halaman. Warga Kampung Toba yang juga merupakan sahabat karib Amang di antaranya adalah Togap, Gordon, Haposan, Parulian, dan Patar, si buta yang bijak. Mereka tak segan-segan menolong Amang di kala susah atau butuh bantuan. Terlebih Parulian - seorang pengacara yang juga teman main catur Amang, ia sudah dianggap seperti anak kandung Amang sendiri sebab seringkali ketiga anak Amang acuh tak acuh. 

Di rumahnya, selain bersama ketiga anaknya, Amang tinggal bersama adik perempuannya dan satu orang keponakan perempuan (anak dari adik perempuannya). Namboru (sebutan untuk adik perempuan amang) dan Nauli - anak perempuan namboru, tinggal di rumah itu sejak istri Amang meninggal dunia. Istri Amang berpesan agar namboru bisa menjaga dan merawat anak-anak Amang. Sejak itu rumah mereka terasa ramai dan hangat, walau menurut anak-anak Amang rumah itu kian sempit sebab Namboru dan Nauli ikut bernaung.

Suatu hari Amang Sagala berulang tahun. Amang memasak berbagai makanan untuk merayakan hari lahirnya itu bersama keluarga. Akan tetapi harapan untuk merayakan ulang tahun bersama anak-anaknya pupus karena ketiganya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tarida sibuk dengan tugasnya sebagai sekretaris Pak Boston, yang kebetulan hari itu juga berulang tahun. Ia baru ingat setelah Pak Boston mengingatkannya akan hari ulang tahun ayahnya. Pak Boston ingat, Tarida pernah mengatakan bahwa hari ulang tahun amangnya sama dengan hari ulang tahun Pak Boston. Setelah ingat, seketika Tarida menelepon dua adiknya untuk merayakan hari spesial itu di restoran Siantar. Segera mereka bertiga membuat janji dengan Amang untuk bertemu di restoran Siantar.

Berjam-jam Amang menunggu ketiga anaknya itu di restoran namun tak satupun dari mereka yang datang. Rupanya, lagi-lagi ada keperluan mendadak terkait pekerjaan mereka itu. Amang yang kecewa terpaksa pulang dan menyantap makanan yang telah ia masak sendiri di rumah bersama Namboru dan Nauli.

Kekecewaan Amang tak sampai di situ. Maruli, si dokter spesialis penyakit dalam kebanggaan Amang tiba-tiba meminta izin untuk menikahi seorang perempuan. Perempuan itu tak lain adalah Debora, anak Pak William-atasan Maruli. Setelah kedua pihak mempelai bertemu, nampaknya ada yang tak bisa disepakati oleh Amang selaku ayah dari mempelai laki-laki. Pak William memberikan 'uang kesepakatan' yang jumlahnya fantastis kepada Amang. Dengan adanya uang itu, Pak William ingin di pesta pernikahan Maruli dan Debora nanti tidak dihadiri oleh sanak saudara pihak mempelai laki-laki. Itu artinya segenap warga kampung Toba tidak diperkenankan hadir.

'Uang kesepakatan' tersebut bagaikan penghinaan bagi keluarga Amang. Walaupun hidupnya miskin bukan berarti ia bisa 'dibeli' dengan uang. Ia marah besar karena harga dirinya sebagai orang Batak telah diinjak-injak. Ia pun mengembalikan uang tersebut di depan muka Pak William. Namun demikian pesta pernikahan Maruli tetap dilaksanakan tanpa kehadiran sanak saudara Kampung Toba. Di tengah kemeriahan pesta pernikahan itu hati Amang sangat kecewa.

Tarian pembuka cerita (dokumen pribadi)

Tarian saat pernikahan Maruli (dokumen pribadi)

Tarian saat pernikahan Maruli (dokumen pribadi)
Tak cukup Tarida dan Maruli yang melukai hati Amang. Dame, si bungsu, dikejar-kejar preman penagih utang. Ia kebingungan bagaimana caranya membayar utang hasil kalah judinya itu. Utang Dame berjumlah 10 juta dan tentu saja ia tak memiliki uang sebanyak itu. Beruntunglah Dame bertemu dengan Arta. Gadis dari sebuah desa di dekat Danau Toba sana yang merantau ke kota hanya untuk mengejar cintanya. Arta memiliki keyakinan bahwa Dame, cinta masa kecilnya, akan menjadi jodohnya. Hal itu berawal dari sebuah janji yang mereka ucapakan tatkala 18 tahun yang lalu Dame ditolong oleh Arta setelah hampir tenggelam di Danau Toba. Sebuah janji untuk bertemu kembali suatu saat.

Dalam keadaan yang terhimpit itu, akhirnya Dame ditolong oleh Arta. Uang 5 juta bekal dari kampung diberikan seluruhnya untuk membayar separuh dari utang Dame. Arta yang luntang-lantung di kota akhirnya menumpang tinggal di rumah Amang. Awalnya kehadiran Arta ditolak habis-habisan oleh Tarida, tetapi karena sikap Arta yang tulus akhirnya Amang memperbolehkan Arta tinggal di rumahnya. Rumah itu semakin ramai dan hangat dengan kehadiran Arta. 

Keadaan keluarga amang yang serba sederhana itu membuat Maruli dan Debora memiliki sebuah ide, yaitu menjual seluruh tanah di kawasan kampung Toba dan mendirikan rumah kontrakan dengan konsep yang lebih modern. Ide itu diutarakan kepada saudaranya, Tarida dan Dame. Awalnya Tarida dan Dame kaget bukan kepalang mendengar ide tersebut. Namun setelah mendengar bahwa uang hasil penjualan tanah itu akan dibagi tiga sama rata, mereka pun setuju.

Maka, majulah mereka bertiga beserta Debora menghadap Amang untuk mengutarakan niatnya tersebut. Sudah tentu Amang marah besar mendengar niatan itu. Keadaan itu membuat hubungan Amang dan ketiga anaknya kian memburuk. Namboru dan Nauli juga diseret-seret oleh ketiga anak Amang dalam permasalahan ini. Kehadiran mereka dinilai anak-anak Amang, hanya sebagai pengganggu di rumah itu.

Tak bisa diam dengan ulah ketiganya, Amang, didampingi Parulian sebagai pengacara yang ia percaya akhirnya menuntut anak-anaknya. Surat tuntutan yang datang ke ketiga anaknya itu dibaca dengan mata terbelalak. Tarida, Maruli, dan Dame terkejut melihat besarnya nominal uang yang harus mereka bayar dalam surat tuntutan tersebut. Tak terima dengan itu, mereka akhirnya datang menemui ayahnya. Dengan segala bujuk rayu ketiganya memohon agar Amang mencabut tuntutannya.

Mereka bertiga merasa tidak sanggup membayar sejumlah uang kepada Amang sesuai dengan yang tertera pada surat tuntutan itu. Mereka merasa bahwa Amang otoriter dan tidak adil meminta sejumlah uang kepada anaknya sendiri. Saat itu pula pengacara Amang, Parulian bertindak. Parulian berusaha membukakan mata anak-anak Amang, bahwa jumlah uang yang tertera itu belum ada apa-apanya dibandingkan kerja keras dan jerih payah Amang membesarkan Tarida, Maruli, dan Dame untuk sekolah dan menjadi seperti sekarang. Belum ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan Amang untuk menyekolahkan Maruli sampai menjadi dokter spesialis, membelikan segala kebutuhan pokok dan remeh temeh yang dibutuhkan Tarida serta Dame.

Karena mereka tak sanggup membayar uang tuntutan, maka Amang memiliki lima permintaan yang harus dilakukan oleh anak-anaknya dalam kurun waktu tiga bulan. Permintaan itu adalah; 1) sarapan pagi bersama, 2) menelepon dan menanyakan kabar Amang secara rutin setiap hari kerja, 3) khusus untuk Tarida, kencan buta dengan delapan pria - empat pria pilihan Amang dan empat lainnya boleh pilihan Tarida sendiri, 4) Maruli dan Debora tinggal bersama di rumah Amang, dan 5) Dame rutin memberikan uang sebesar 6 juta setiap bulan pada Amang. Walau alot, akhirnya permintaan itu disepakati oleh ketiganya.

Perlahan kelima permintaan tersebut dijalani oleh ketiga anak Amang. Tarida, si anak pertama akhirnya menemukan tambatan hatinya, yaitu Parulian, teman main catur dan juga pengacara Amang. Mereka menikah dan hidup bahagia. Debora, istri Maruli menjadi kerasan dan merasa memiliki keluarga setelah tinggal di rumah Amang. Ia juga jadi banyak belajar tentang adat istiadat Batak dan khususnya tentang tutur sapa hierarkis dalam budaya Batak. Terakhir, si bungsu Dame, ia menjadi sosok pekerja keras yang pantang menyerah karena terbiasa untuk mencari uang secara mandiri. Ia juga akan segera menikah dengan Arta, gadis dari Toba sana yang tulus mencintainya.

Tiga bulan yang penuh makna itu hampir usai. Amang lega karena kini tugasnya sebagai orang tua hampir tuntas. Ia tak khawatir lagi perihal generasi penerusnya akan jadi seperti apa. Namun, kini kondisi kesehatan Amang tak sebaik dulu. Belakangan ia sering terjatuh tanpa sebab. Hal itu membuat anak-anaknya cemas. Rupanya, selama ini Amang menyembunyikan penyakitnya dari ketiga anaknya. Penyakit kanker usus itu kini sudah semakin parah dan waktu Amang untuk bersama keluarganya tidaklah lama lagi.

Betapa hancur hati Maruli mendengar penyakit ayahnya. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, ia tidak berbuat apa-apa untuk itu.  Amang juga menolak niat Maruli untuk mencoba mengobatinya. Ia tidak ingin menyusahkan anak-anaknya untuk itu. Asal anak-anaknya telah bahagia dan memegang nilai-nilai luhur yang seharusnya, itu sudah cukup baginya.

Bersama segala memori akan tiga bulan yang memberi makna untuk selamanya itu, kini Amang sudah dapat beristirahat dengan tenang di Surga sana. 

***

Keseluruhan cerita tersebut dikemas sangat apik oleh teater Legiun. Lakon yang naskahnya digarap oleh Ibas Aragi yang juga sebagai Sutradara ini, membuat penontonnya larut dalam emosi-emosi dalam cerita. Humor yang terselip, konflik yang diangkat, pesan moral yang tersirat dan tersurat, kekuatan karakter tokoh, alunan musik Batak, efek cahaya, dan tentunya tarian-tarian pendukung, semuanya dikolaborasikan dengan sangat baik. Saya berharap Teater Legiun bisa konsisten berkarya dan menampilkan lakon-lakon yang lebih seru lagi, sehingga dapat terus menebarkan berkat ke sesama! 

Mauliate! Ditunggu pementasan berikutnya.

Horas!

Rabu, Agustus 24, 2016

Tentang Saya, Bahasa Isyarat, dan Pertanyaan-Pertanyaan yang Menyertainya

Baru enam bulan saya belajar bahasa isyarat Indonesia dan berkecimpung di dunia Tuli. Terhitung sejak Januari 2016 akhir saya resmi bergabung dengan salah satu komunitas yang mengadakan kelas belajar bahasa isyarat. Sejak itu pula rasanya saya menemukan dunia baru yang ingin sekali saya selami lebih dalam.

Bagi sebagian orang, mengetahui seseorang tengah mempelajari bahasa isyarat adalah hal yang mengherankan. Sehingga saat saya secara tidak sengaja bercerita ke teman-teman terdekat bahwa saat ini saya sedang mempelajari bahasa isyarat, tak jarang mereka mengernyitkan dahi, setengah kaget, atau memberikan pertanyaan terkait itu. Ada banyak pertanyaan yang muncul dari mereka yang rata-rata adalah teman saya sendiri. Sampai-sampai rasanya saya ingin menaruh kolom FAQ (frequently asked questions/pertanyaan yang sering ditanyakan) di dahi saya saat memulai topik tentang isyarat.

Respon dan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul

1. "Kamu ikut kelas bahasa isyarat? Buat apa?"
2. "Bahasa isyarat yang pakai tangan itu Cin?"
3. "iih.. seruu banget.."
4. "Bahasa isyarat itu untuk tunarungu ya?"
5. "Belajar bahasa isyarat dimana Cin?"
6. "Kenapa mau belajar bahasa isyarat?"
7. "Mau belajar bahasa isyarat karena diajak teman atau kemauan sendiri?"
8. "Di kelas diajar sama guru Tuli? Gimana cara komunikasinya?"
9. "Di kelas nggak ada penerjemah? Emang bisa?"
10. "Bahasa isyarat ada kamusnya nggak? Kamusnya per kata atau per frasa?"
11. "Butuh berapa lama belajar isyarat sampai bisa fasih?"
12. "Belajarnya sama nggak sama kalau kita belajar bahasa asing?"
13. "Terus, kamu sekarang udah bisa ngomong apa aja pakai bahasa isyarat? Coba dong.."
14. "Kalau mau ngomong sama gurunya pakai isyarat dong?"
15. "Tuli bukannya ada yang bisa bicara ya? Emangnya harus pakai isyarat?"

Total ada 15 pertanyaan yang saya rangkum selama ini. Sebetulnya masih ada pertanyaan-pertanyaan lain terkait Tuli, budaya Tuli dsb. Tetapi kali ini saya hanya menjawab yang itu dulu. 

Respon saya
Agar lebih mudah dalam menjelaskan dan menceritakan detail, saya akan menulis pertanyaannya kembali sesuai urutan, kemudian disusul dengan jawaban dan respon saya terhadap pertanyaan tersebut. Oke?.. Kita mulai! :D

1. "Kamu ikut kelas bahasa isyarat? Buat apa?"
Hmm, iya saya ikut kelas bahasa isyarat. Untuk apa? Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya terhadap bahasa isyarat. Untuk dapat berkomunikasi dengan Tuli. *Selengkapnya ada di poin 6
 2. "Bahasa isyarat yang pakai tangan itu Cin?"
iya, bahasa isyarat yang digunakan oleh komunitas Tuli menggunakan gerakan tangan dan juga ekspresi wajah.
 3. "iih.. seruu banget.."
Ooh, iya dong. Seru banget! Kalau kamu belajar juga pasti akan ketagihan :)
 4. "Bahasa isyarat itu untuk tunarungu ya?"
Iya, kelompok pengguna bahasa isyarat kebanyakan adalah Tuli/tunarungu. Eits! Tapi coba kita lihat lagi arti kata 'isyarat'. Menurut KBBI, isyarat (n) adalah segala sesuatu (gerakan tangan, anggukan kepala, dsb) yang dipakai sebagai tanda atau alamat.
Maka sebetulnya, kalau kita berbicara secara umum tentang bahasa isyarat, tidak sampai di situ saja pengertiannya. 
Kalau kamu suka lihat di rumah sakit, atau saat menjenguk pasien koma di ICU, atau ada pasien stroke sehingga tidak bisa berbicara, mereka juga berkomunikasi dengan isyarat, kan? Kedipan mata mereka, anggukan kepala, kernyitan dahi mereka bisa berarti maksud tertentu untuk disampaikan ke orang terdekatnya. 
Sama halnya saat kita bayi. Anak bayi belum bisa menyampaikan perasaan haus, lapar, ngantuk atau kegerahan kepada ibunya. Bayi lebih banyak menangis, gelisah, tertawa atau tersenyum untuk memberi tanda ke orang tuanya bahwa ia lapar, haus, senang atau kegerahan.
Tidak sampai di situ, isyarat juga dipakai dalam strategi perang/pengamanan suatu wilayah sebagai cara komunikasi :)
 5. "Belajar bahasa isyarat dimana Cin?"
Saya belajar bahasa isyarat di perpustakaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan. Di sana saya bergabung dalam suatu komunitas bernama Youth for Diffable (YFD). Setiap tahunnya mereka membuka kelas baru dengan sistem open recruitment, disertai beberapa tahapan seleksi (apabila pendaftarnya banyak).
Tapi bagi kalian yang ingin belajar bahasa isyarat di luar komunitas YFD dan dengan ritme yang jauh lebih santai-tidak terikat waktu, kalian bisa mengunjungi Stand Bahasa Isyarat Indonesia yang diselenggarakan oleh GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) di kawasan Car Free Day Jl. MH Thamrin dekat Hotel Mandarin setiap Minggu pukul 06.00 - 10.00 WIB.
 *) mohon dicatat, bahwa YFD dan Gerkatin adalah dua organisasi yang berbeda. Penyelenggaraan kelas isyarat di Car Free Day adalah inisiasi Gerkatin. Sedangkan kelas isyarat di perpus Kemdikbud adalah inisiasi YFD. Banyaknya pihak yang keliru dalam menulis artikel perihal penyelenggaraan dua kelas isyarat tersebut membuat saya merasa perlu meluruskan hal ini.
 6. "Kenapa mau belajar bahasa isyarat?"
Untuk alasan mengapa saya ingin belajar bahasa isyarat bisa lihat di sini

 7. "Mau belajar bahasa isyarat karena diajak teman atau kemauan sendiri?"
Sampai saat ini belum ada hal yang saya lakukan (khususnya mempelajari suatu hal baru) karena ikut-ikutan teman atau diajak oleh teman. Semua saya lakukan atas dasar kemauan sendiri dan kesadaran sendiri.

 8. "Di kelas diajar sama guru Tuli? Gimana cara komunikasinya?"
Iya, di kelas saya diajar oleh seorang guru Tuli. Tanpa ada juru bahasa isyarat/penerjemah sama sekali. Cara belajar seperti ini sama seperti saat kalian belajar bahasa asing dan diajarkan langsung oleh native speaker. Selain lebih mudah terbiasa dengan bahasa dan gestur, kita juga bisa mengenal dan mempelajarai budaya Tuli.
Cara komunikasi di kelas menggunakan bahasa isyarat langsung dan dibantu dengan papan tulis sebagai sarana pendukung.

9. "Di kelas nggak ada penerjemah? Emang bisa?"
Iya, tidak ada. Bisa kok.

10. "Bahasa isyarat ada kamusnya nggak? Kamusnya per kata atau per frasa?"
Bahasa isyarat Indonesia ada kamusnya. Saat ini sedang dikembangkan oleh tim LRBI (Laboratorium Riset Bahasa Isyarat) di bawah naungan Departemen Linguistik FIB UI. Kamusnya (setahu saya) per kata*.

*) Mohon koreksi apabila saya keliru dalam memberi informasi

11. "Butuh berapa lama belajar isyarat sampai bisa fasih?"
Lama atau sebentar itu relatif. Setiap orang memiliki daya tangkap dan daya ingat yang berbeda-beda. Maka untuk pertanyaan ini, saya bisa jawab, tergantung dari masing-masing orang. Lancar atau tidaknya hanya orang Tuli yang bisa menilai.

12. "Belajarnya sama nggak sama kalau kita belajar bahasa asing?"
Secara umum sama, karena belajar bahasa selalu mengulas tentang kosakata, percakapan,  dan struktur kalimat. Satu hal yang menarik adalah di perbedaan struktur kalimat bahasa Indonesia verbal dan struktur kalimat bahasa isyarat Indonesia. Mungkin letak perbedaan mendasarnya ada di saat kita mencatat materi. Saat kelas bahasa asing kita terbiasa mencatat kosakata baru dan artinya. Kalau belajar bahasa isyarat kita dituntut mengingat gerakan. Atau jika kalian mau, kalian bisa mendokumentasikan guru isyarat saat mengajar agar dapat dipelajari ulang.

13. "Terus, kamu sekarang udah bisa ngomong apa aja pakai bahasa isyarat? Coba dong.."
Hmm, apa ya.. hahaha.. sudah bisa ngobrol-ngobrol cantik bersama teman-teman Tuli :p Tak perlu saya unggah video untuk itu, kan? Hehe.. 

14. "Kalau mau ngomong sama gurunya pakai isyarat dong?"
Tentu, pakai bahasa isyarat.

15. "Tuli bukannya ada yang bisa bicara ya? Emangnya harus pakai isyarat?"
Beberapa dari mereka ada yang terbiasa oral (berbicara secara verbal dan membaca gerak bibir lawan bicara). Tetapi lebih banyak yang menggunakan isyarat agar tidak kesulitan membaca gerak bibir dan tidak miskomunikasi dalam memahami perkataan lawan bicara.
Kutipan dari brosur Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia)





Selasa, Juni 14, 2016

Mengapa Saya Ingin Belajar Bahasa Isyarat?

Setelah beberapa teman mengetahui bahwa saya kini memiliki kegiatan baru, yaitu belajar bahasa isyarat, maka saat itu pula ada banyak pertanyaan yang muncul dari benak mereka. Pertanyaannya beragam, tetapi yang paling mendasar adalah tentang "Mengapa saya ingin belajar bahasa isyarat?" "Untuk apa?" "Apa pentingnya sih?"

Oke. Saya jawab.

Jadi, sebetulnya keinginan untuk belajar bahasa isyarat ini sudah ada sejak saya SD, kelas 4 (kalau tidak salah). Saat itu saya sedang menonton televisi dan ada tayangan yang menampilkan seorang juru bahasa isyarat. Persisnya bagaimana saya pun lupa, yang pasti saat itu saya bertanya pada Mama saya, "Ma, itu apa? Bahasa apa? Belajarnya di mana?". Waktu itu Mama saya hanya menjawab sepengetahuannya saja, "Itu bahasa isyarat, dipakai untuk komunikasi orang-orang tunarungu" Mama bilang bahasa isyarat biasa dipelajari di SLB untuk anak-anak tunarungu. Saat itu saya kebingungan, karena saya ingin mempelajari bahasa isyarat tetapi tidak ada akses dan tidak tahu harus belajar di mana. Maka keinginan saya itu saya kesampingkan sampai saya dewasa. 

Pada bulan Oktober-Desember 2015, saya melakukan penelitian skripsi untuk rumpun ilmu pendidikan kimia. Penelitian berlangsung di sebuah SMA Negeri yang kebetulan inklusi. Di sana saya bertemu beberapa orang siswa berkebutuhan khusus. Di kelas tempat saya mengajar pada saat itu ada satu orang siswa yang saya ketahui berkebutuhan khusus. Akan tetapi setelah mengajar beberapa pertemuan saya menyadari bahwa ternyata ada satu siswi yang berbeda dari yang lain. 

Namanya Bilkish. Murid perempuan saya yang satu ini cantik, pintar dan murah senyum. Saya selalu kagum dengan nilai-nilainya di pelajaran saya yang selalu bagus dan tidak pernah remedial. Semangat belajarnya juga tinggi walau saya selalu melihat dia sebagai siswi yang pendiam di kelas. Kadang memang ritme mengajar saya cepat, sehingga sepertinya terkesan bahwa saya tidak memperhatikan murid, akan tetapi saya selalu memperhatikan dan menghafal nama murid saya satu per satu secara detail, begitupun dengan sikapnya, karakternya dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan di kelas. 

Suatu hari, Bilkish menanyakan cara penyelesaian soal kimia kepada saya. Saat itu saya langsung menyadari ada yang berbeda dari cara komunikasi Bilkish. Namun itu bukan masalah bagi saya. Saya malah sangat senang bila ada murid yang bertanya pada saya. Dan saat itu Bilkish yang biasanya hanya diam memperhatikan saya mengajar, melontarkan pertanyaannya pada saya. Saya senang sekali, karena tandanya Bilkish antusias dengan apa yang saya ajarkan. 

Di kelas yang siswanya aktif⎯baik belajar maupun bercanda, saya sempat dijadikan bahan pembicaraan di grup LINE kelas mereka karena salah satu dari mereka ada yang stalking akun instagram saya dan mengirim screenshot-nya ke grup kelas :p 

Bagi saya, hal ini tidak jadi masalah sama sekali. Saya justru meminta mereka untuk saling follow instagram dengan saya ketika saya tahu mereka telah stalking habis-habisan akun instagram saya hahaha.

Dari sana, saya tahu bahwa Bilkish juga memiliki akun instagram. Saya follow instagram dia dan melihat beberapa foto Bilkish di sana. Rupanya Bilkish adalah alumni SDLB Santi Rama. Dugaan awal saya mengenai kondisi pendengaran Bilkish ternyata benar. Dari situ hati dan pikiran saya seperti diguncang, karena saya menjadi semakin sadar bahwa sebetulnya ada banyak anak-anak yang memiliki keterbatasan tetapi juga mampu setara dengan yang lainnya. Kebetulan anak-anak yang saya temui ini adalah anak-anak yang beruntung karena memiliki keluarga yang peduli dan berkecukupan secara finansial. Bagaiman jika ada anak-anak yang memiliki keterbatasan tetapi tidak ada dukungan moril dan materi dari sekitar, khususnya keluarga?

Bilkish, anak perempuan berkerudung berkacamata persis di sebelah kiri saya
Bilkish, sebelah kiri saya persis.
Surat dari Bilkis, berisi kesan dan pesan :)

Di saat yang hampir bersamaan, Desember awal saya mendapat broadcast message di grup WhatsApp kampus. Seorang teman membagikan informasi mengenai komunitas Youth for Diffabel yang mengadakan kelas clubbing bahasa isyarat gratis. Tentunya saya yang dari dulu sangat ingin belajar bahasa isyarat senang sekali melihat info tersebut. Bahkan saya seketika itu juga membuka link pendaftaran dan mengisi formulirnya. Beruntung saya lolos seleksinya dan sampai sekarang saya masih belajar bahasa isyarat di sana. :D

Pertemuan saya dengan Bilkish membuat saya berpikir tentang nasib anak-anak Tuli dalam mengakses pendidikan. Saya berpikir bagaimana jika suatu hari nanti saya bertemu dengan murid-murid yang beberapa di antaranya Tuli. Bagaimana saya harus mengajarkan ilmu yang saya miliki kepada mereka? Tentunya agak sulit jika harus disampaikan secara verbal. Oleh karena itu, saya pikir saya patut mempelajari bahasa isyarat ini. Entah nanti akan menjadi guru atau dosen atau apapun nanti profesinya, saya percaya tidak ada ilmu yang sia-sia untuk dipelajari :)


Salam damai,
Cintra

Rabu, Juni 08, 2016

Merawat Cinta


Mungkin, cinta dan makanan kaleng itu hampir sama. Sama-sama memiliki masa kadaluarsa!

Bedanya, makanan kaleng akan dibuang ke tempat sampah ketika kadaluarsa. Ia menjadi tak layak makan dan membusuk begitu saja.

Tetapi cinta tidak begitu.
Cinta bisa diperpanjang masa kadaluarsanya. Seiring kita merawatnya dengan baik.

Jika kita memercayai cinta adalah anugerah dari Sang Mahacinta, maka sudah seharusnya kita mensyukuri dan merawatnya dengan baik. :)
.
Tapi ada satu hal yang perlu diingat:
Jangan merawat cinta sendirian!

[Jakarta, 6 Mei 2016]

Minggu, Mei 29, 2016

Cahaya-Cahaya yang Berpendar



Tentang rindu yang tak lunas
Sebaiknya dilupakan saja
Karena kita tak pernah menemukan celah menuju pulang

Lima belas jam aku berputar
Mencari dan menemukan sebuah arti keberadaan dan ketiadaan

Cahaya pagi kian redup
Lantas, lampu kota bersenandung lirih
Berkisah tentang rasa yang memudar

Mereka berpendar mencari perhatian
Seiring menghibur hati yang disesaki rindu

Malam ini cahaya-cahaya berpendar menghibur mereka yang sedang mencari arti

Tentang rindu yang tak lunas
Tentang rasa yang pudar

dan
Tentang kejutan-kejutan tak terduga dari semesta yang patut disyukuri

[Jakarta, 22 Mei 2016]

Sabtu, Mei 21, 2016

bincang semu

percakapan yang tertahan

seharusnya tak perlu ada

karena

walau bagaimana pun

akan berakhir menyesakkan


Sabtu, Mei 14, 2016

Tentang Luka dan Kesembuhan




Hari ini aku mengintip lukaku kembali.
Bukan untuk diratapi, tetapi untuk dilihat apakah ia membaik atau memburuk.

Memang, tak akan ada yang pernah paham tentang luka tiap-tiap orang.
Mungkin ada yang darahnya masih mengalir deras.
Mungkin juga ada yang setengah kering.
Atau mungkin ada yang perlu dijahit lebih dulu agar kemudian mudah untuk proses penyembuhannya.

Luka.
Kadang membawa kita ke koridor ketidakwarasan.
Pelan-pelan menjadi gila dan melakukan hal yang tidak wajar.

Tapi hari ini aku sadar.
Siapapun ia — bahkan si penanam luka sekalipun, mempunyai luka.
Walau, entah seberapa parah.

Hari ini aku paham.
Bahwa pelan-pelan, segala proses hidup membawa kita untuk menjadi lebih baik.

Tak peduli luka ini separuh sembuh atau sepertiga sembuh atau seperempat sembuh atau sepersepuluh.

Untuk mereka yang pelan-pelan membawa lukanya menuju kesembuhan..
Semoga dalam menikmati segala prosesnya menjadi selalu indah untuk dijalani.

----
"Sebab waktu tidak akan menyembuhkan luka. Tetapi waktu akan menjawab segala tanya."
.
[Jakarta, 9 Mei 2016]

Kamis, Maret 31, 2016

Sesederhana Melirik, Sepelik Mencinta


Hari itu
Angin membawa raga ini menuju suatu pintu
Bukan untuk mengadu
Tapi untuk bertemu

Peluh dan gerimis sore
Entah mengapa kian ramai

Polusi ibukota merongrong ingin diperhatikan sejenak
Bagai memperlambat langkah-langkah setapak

Menyusuri trotoar, melompati genangan air
Entah mengapa, beku ini tak jua mencair

Seteguk air mineral membasahi kerongkongan
Menenangkan cinta yang letih akan kebohongan

Beberapa pasang mata menatapku sekejap
Sadarkan aku bahwa ini bukanlah cahaya di dalam gelap!

Kau hadir
Mungkin sudah takdir

Hari itu

Aku melirik parasmu
Di keramaian yang penat
Mungkin kau bagai hantu
Namun kutatap kau lekat

Sebelum akhirnya aku lalu
Walau langkah terasa berat

Jumat, Maret 11, 2016

Terbangun dari Mimpi

(Foto: dokumen pribadi)

Tiba-tiba mataku terbuka.

Tidurku yang tak seberapa lama itu tidak terlalu mengenakkan apalagi nyenyak. Aku lupa semalam tidur pukul berapa. Pagi ini kutersadar, selimutku terbuang ke lantai dan aku masih memeluk guling.

Lantas, aku melirik ponselku di atas meja sebelah tempat tidurku. Kunyalakan layarnya tanpa beranjak dari posisiku semula. Sudah pukul 05.30 pagi rupanya. 

Kuingat mimpi itu.

Masih terbayang jelas di kepala.

***

Malam itu hujan cukup deras. Kami berdua baru saja menghadiri sebuah pembukaan pameran yang sedang ramai dibicarakan anak-anak muda di kotaku. Ia menggandeng tanganku di depan lobi gedung pameran itu berlangsung. Kami berdua seperti memperhatikan hujan yang tak kunjung reda. Sementara itu, genggaman tangannya semakin erat. Entah apa artinya. Aku tak mengerti.

Sudah sekian lama kami menghabiskan waktu bersama. Kesana, kemari. Menjelajah ibukota dan segala pernak-perniknya. Mungkin jutaan detik sudah kuhabiskan dengannya. Sekian banyak hal juga kujalani dengannya. Mulai dari bangun tidur dan mengucapkan selamat pagi, sampai beranjak tidur dan mengucapkan selamat malam melalui pesan singkat. Dari hal sepele sampai hal yang kompleks.

Udara dingin bertiup menghempas helai rambutku dan menerpa wajahnya. Ia bertanya padaku, apakah aku kedinginan. Namun aku menggeleng, kemudian menunduk saja memperhatikan rintik hujan yang jatuh ke aspal.

Hujan tak kunjung reda.

Namun kami tak mungkin terlalu lama menghabiskan waktu untuk menunggu hujan sampai reda. Kami perlu pulang ke rumah masing-masing. Hari sudah semakin malam dan kendaraan untuk pulang semakin sulit didapat. 

Tak berapa lama sebuah taksi berhenti di depan lobby gedung, pasca menurunkan penumpang. Spontan aku mendekati taksi itu dan memastikan kesediaan supirnya. Rupanya taksi tersebut bersedia untuk mengantar ke arah rumahku.

Kemudian kami berdua naik.

Tak peduli arah rumah kami berjauhan, bahkan tidak searah sama sekali, ia ikut denganku.

Entah sejak kapan. Mungkin sejak aku tahu ada banyak hal yang ia sembunyikan dariku atau sejak aku semakin paham siapa perempuan itu. Rasanya, genggaman tangan atau kecupan sayang hanyalah formalitas belaka. Entah. Mungkin aku muak saja dengan semuanya. Mungkin aku jenuh dan lelah dengan semuanya. Sehingga semua terasa hambar dan tak ada artinya lagi.

Di taksi dengan pencahayaan temaram ia mulai bercerita tentang kesibukkannya akhir-akhir ini. Bagiku semuanya seperti racauan yang melintas sesaat di telingaku. Tak ada yang perlu kurekam di kepala dan tak ada yang cukup penting untuk kuingat.

Ia memandangiku dengan penuh rasa heran.

Pandangannya kubalas dengan senyuman.

Tak terasa taksi yang kami tumpangi hampir sampai ke rumahku. Selanjutnya, aku akan segera turun dan ia bergegas pulang menggunakan taksi yang sama ke rumahnya yang terbilang cukup jauh dari rumahku.

Aku lebih banyak diam selama di taksi. Bisa dibilang tak ada percakapan yang menarik lagi di antara aku dan dia. Mungkin saja kami masih membutuhkan satu sama lain sebagai pendengar setia setiap keluhan hidup. Mungkin saja kami masih menyayangi satu sama lain. Dan segala kemungkinan tersebut mungkin saja masih terlintas di benakku. Tetapi aku tidak bisa berpura-pura menjadi orang bodoh setiap saat. Bertahan dan sabar serta tetap lurus mencintai laki-laki yang aku tahu telah memiliki cerita lain di luar sana. Aku tidak bisa terus berpura-pura menikmati kehambaran demi kehambaran ini. Bahkan, aku tidak bisa berpura-pura hidup ketika aku mati rasa.

Beberapa meter lagi taksi akan sampai ke depan rumahku. Aku bergegas mengambil uang dari dompet untuk membayar taksi. Kami membisu. Lantas, tanpa perlu ada kata apapun aku memeluknya dengan erat dan mencium keningnya.

Segera kututup pintu taksi dan melambaikan tangan serta senyuman padanya.

Air mataku menetes deras dan pandanganku kabur begitu saja. Entah, seperti ada yang meledak sekaligus lega. Kupikir, mungkin esok tak akan pernah ada lagi pertemuan-pertemuan seperti ini.


***

Mimpi itu sekejap hilang saat aku menaruh ponselku dan mengelap pipiku yang ternyata basah karena air mata yang menetes dengan sendirinya.

Ah, ini Minggu masih pagi, pikirku.

Kurasa kini saatnya lari pagi.


Kamis, Januari 21, 2016

Renungan Malam

Crowded solitude by Alberto Pancorbo

Kadang kita hanya sibuk membuat orang lain bahagia, menuruti kemauan orang-orang yang kita sayangi dan berusaha menjadi seperti yang mereka inginkan. Hati dan logika seringkali bergulat untuk sebuah keputusan yang menurut kita adil dan baik untuk semua pihak. Kadang logika menang, kadang hati yang kalah. Kita juga sibuk memikirkan apa kata orang lain. Pendapat orang terhadap kita. Kita repot memikirkan hal-hal yang normatif, yang dianggap wajar oleh orang-orang sekitar.

Tapi pada akhirnya kita lelah dan mungkin tertekan dengan semua itu.

Sebab seberapapun usaha kita untuk membuat orang-orang di sekeliling kita happy, bahagia, bangga, semuanya tidak akan pernah ideal. Nyatanya kita tidak bisa membuat semua orang mendapat bahagia yang sama, rasa bangga yang sama, kepuasan yang sama. Nyatanya kita tidak bisa.

Sebab nyatanya, kebahagiaan, rasa senang, rasa bangga, kepuasan tiap orang berbeda-beda. Apa kita bisa membuat semua orang bahagia? 

Entah..

Mereka punya versi kebahagiaannya masing-masing yang barangkali kita tidak paham.

Kita hanya bisa berusaha untuk membuat segalanya ideal. Tapi sulit.

Bukan berarti hidup manusia pasti akan mengecewakan manusia lainnya.

Bukan.

Manusia hidup, bukanlah 'sudah pasti akan mengecewakan manusia lainnya'.
Bukan.
Bukan seperti itu.

Akan tetapi, manusia tidak bisa membahagiakan semua orang.
Itu saja.

Setiap hari kita berlagak ingin membahagiakan orang-orang yang kita ingin mereka bahagia. Padahal kita lelah. 

Dengan mengatakan "kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku" apa itu cukup?

Nyatanya, kita sendiri lupa cara membahagiakan diri sendiri. 
Nyatanya kita lupa memberi penghargaan ke diri kita sendiri.
Lupa menyayangi diri sendiri dan merasakan bahagia untuk diri kita sendiri.

Kita juga sudah lama lupa, bahwa kita pantas bahagia!

Jumat, Januari 01, 2016

Sambutan Untuk Tahun yang Baru


Pagi ini saya awali dengan sarapan ketupat sayur padang di depan pasar Tebet Barat. Ketupat sayur ala Padang dengan kuah kuning dan daun pakis. Tak lupa telur balado serta kerupuk merah. Nikmat dan mengenyangkan rasanya. 

Langit pagi di tanggal 1 Januari ini sangat cerah dan sedikit terik, setelah semalam sempat gerimis agak deras. Saya harap ini pertanda baik untuk mengawali tahun ini.

Semalam saya menghabiskan malam pergantian tahun bersama teman-teman di daerah Tebet. Kami membuat sate-sate sayur dan sosis/bakso. Saya membeli jamur champignon untuk juga dibakar dan dijadikan sate. Ternyata rasanya enak dan banyak yang suka karena teksturnya yang menyerupai daging. Saya dan beberapa teman kebagian tugas mengipasi tungku pembakaran. Cukup panas namun menyenangkan. :)

Merayakan pergantian tahun bersama teman-teman rupanya membuat saya kurang tidur dan kelaparan di pagi hari. Mungkin karena semalam saya lebih banyak berkutat di depan panggangan daripada di dalam rumah. Banyak yang bilang, kita akan merasa 'kenyang', apabila kita yang memasak makanan tersebut. Mungkin itu yang saya alami. Saya merasa 'kenyang' melihat setumpuk sate yang berisi potongan sosis, bakso, jamur, cabai jalapeno, paprika kuning dan bawang bombay. Ditambah lagi tiga ekor ayam siap bakar dan satu ekor ikan. Seperti mblenger duluan rasanya.

Pukul 00.00 tiba.

Ada beberapa letupan kembang api warna-warni di langit. Walau tak semeriah tahun lalu tapi tahun ini ada kebersamaan yang saya rasakan. Kami juga ikut menyalakan kembang api dan menikmati segelas cola bersama. Malam pergantian tahun baru kali ini nampaknya tidak melankolis.

Mungkin kami semua punya segudang cerita manis dan pahit di tahun 2015 tetapi semalam semua lebur dengan tawa dan senyuman. Semua larut bersama tegukan-tegukan cola dan kudapan-kudapan hangat lainnya. Semua drama, tangis, kekecewaan dan letih yang kami rasakan tahun lalu seperti terbang saja rasanya.

Terima kasih 2015...

Di tahun 2015 untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki ke Gunung Bromo yang sekarang diberitakan sedang erupsi dan merasakan lelahnya menanjak pendakian-pendakian yang curam (setidaknya) bagi seorang pendaki amatir seperti saya.

Tahun 2015 juga bisa dibilang random. Saya sempat berkenalan dengan seorang teman baru di alun-alun kota Batu. Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Malang pada bulan April lalu ia mengaku telah membaca blog saya dan tertarik dengan salah satu tulisan di blog saya karena ia sedang menggarap film pendek dengan tema serupa. Kebetulan pula ia berdomisili di Malang. Akhirnya saya gunakan masa transit saya di alun-alun Batu untuk mengobrol sedikit dengannya mengenai script film yang telah ia buat. Random bukan?

Tak sampai di situ. Di tahun yang sama saya menghabiskan hari ulang tahun saya di perjalanan  dari Jawa Timur menuju Jakarta bersama teman-teman di bus. Saya lupa tepatnya pukul berapa, mungkin pukul 1, teman-teman memberikan nyanyian ucapan selamat, acara tiup korek (karena tidak ada lilin di bus) dan biskuit marie sebagai ganti kue ulang tahun. :") Sesampainya di Jakarta, saya juga tidak menyangka ada beberapa paket hadiah ulang tahun dari sahabat-sahabat tersayang.

Menonton teater koma gratis sebanyak dua kali juga sebuah kebetulan yang menyenangkan di tahun 2015. Mungkin memang saya beruntung saja mendapat ajakan dari tante saya untuk menonton teater koma Opera Ular Putih. Seminggu atau dua minggu setelahnya, ajakan yang sama datang dari orang tua murid privat saya, mama dan papa Kaia. Tentunya, masih ajakan yang sama, yaitu menonton Opera Ular Putih garapan teater koma. Kapan lagi bisa menonton sebuah pertunjukkan teater super keren secara cuma-cuma dan sebanyak dua kali? :p

Tahun 2015 juga merupakan tahun yang penuh perjuangan karena akhirnya saya selesai melakukan penelitian saya di SMAN 54 Jakarta. Tak hanya itu, berbagai pengalaman tentang mengajar juga saya dapat di sana. Dari mulai murid yang 'iseng', pandai, rajin sampai tragedi lupa jadwal mengajar -..- Tetapi overall saya senang sekali melihat respon murid-murid saya di sana. Mereka semua cerdas dan kritis. Surat-surat kecil mereka kepada saya tentang kesan pesan selama saya mengajar membuat saya terharu dan tertawa :")

Terima kasih 2015...

Kamu telah mengajarkan saya banyak hal. Setidaknya tentang bagaimana menyayangi dan melepaskan, tentang memaafkan dan meneruskan hidup, tentang pertemuan singkat dan perpisahan, serta tentang cara menyembuhkan luka :")

Kamu juga telah mengajarkan saya untuk lebih menjaga kesehatan saya. Di tahun 2015, saya sempat bolak-balik ke dokter THT untuk memeriksa tenggorokan. Rasanya lelah. Dokter menganjurkan saya untuk operasi tetapi saya tidak ingin, mungkin saya masih trauma. Alhasil saya hanya bisa menjaga kesehatan saya dan menjauhkan diri dari aktivitas yang membuat lelah agar tidak kambuh. Alhamdulillah, saya bisa menjaganya sampai hari ini :)

2015.
Kamu membuat saya semakin sadar bahwa ada banyak orang yang menyayangi dan peduli dengan saya. Meskipun kadang saya juga masih mempertanyakan ketulusan dan kejujuran seseorang.

Beberapa teman baru juga mengisi hari-hari saya. Entah mengapa walau baru mengenal mereka rasanya saya seperti sudah pernah mengenalnya lebih dulu. Ada banyak hal yang kami obrolkan, dari yang penting sampai yang tidak penting. Dengan salah satunya, saya sering sekali mencicip makanan baru di sana-sini dan nyinyir mengenai hal-hal absurd bersama. Makanan favorit kami adalah ayam presto goreng Ny. Nita! Dan itu penting sekali! Hahaha

Well,
Sekali lagi terima kasih 2015.

***

Happy new year semua!
Selamat datang tahun 2016.
Sejuta harapan tentang cita dan cinta telah melambung ke udara, melebur dengan semesta untuk kemudian didengar dan diaminkan. Di tahun 2016 ini saya ingin sekali dapat menyelesaikan studi kimia saya di awal tahun (bulan Januari), dan menobatkan diri menjadi sarjana di bulan Maret. Semoga semesta mendukungnya. Aamiin...

Soal cinta?
Saya tidak ingin banyak bicara soal itu.
Karena kadang, meski cinta datang, pergi, dan menghilang, rindu akan tetap selalu pulang. :)

Semoga 2016 menjadi tahun terbaik kita semua dan kita dapat berbahagia bersama orang-orang terkasih! Syukuri dan hargailah setiap harimu dan orang-orang yang mengasihimu, sebab hari-harimu dan keberadaan orang-orang terkasih di dekatmu adalah berkat Tuhan yang belum tentu datang di hari depan.

***
Salam hangat,

Cintra

Rabu, September 23, 2015

Doa Malam



Kepada Tuhan yang senantiasa mendengarkan segala keluh dan permohonan..
perkenankanlah doaku ini Kau dengar dan kabulkan

Teruntuk orang-orang terkasih yang kini tak bisa kupeluk dan luput dari genggaman,



Ya Tuhanku, sampaikanlah pesan rindu ini pada mereka walau sekejap
sesungguhnya tiap detik aku berharap mereka telah nyaman dan bahagia di tempatnya berada kini

bersandar rindu yang tak pernah terucap sempurna
dan seringkali gagap kukatakan dalam tiap doa

aku selalu menunggu sang waktu
dan sekaligus mengejarnya
untuk menawarkan setiap rasa hambar tanpa keberadaan mereka

Oh Tuhanku
berikanlah mereka kebahagiaan yang belum pernah mereka rasa sebelumnya
dan jadikanlah bahagia mereka itu menjadi bahagiaku juga
agar kami dapat selalu memantulkan gelombang kasih sayang ini walau jarak, ruang, dan waktu memisahkan

Tetapi Tuhan,
jika saat ini mereka belum dapat merasakan kebahagiaan itu
aku mohon ya Tuhanku,
bimbinglah mereka agar dekat dengan kebahagiaannya
bimbinglah mereka menemui kebahagiaannya itu

sesungguhnya hanya dalam doa ini aku dapat 'menemui' mereka,
sesungguhnya hanya dengan pejam mata dan tangkup tangan jari jemari ini aku memohon padaMu

berikan mereka jalan untuk mendapat bahagianya

aamiin


(Jakarta, 23 September 2015)




Sabtu, Juni 27, 2015

Pada Sepotong Pizza



Malam ini, meja kerja seperti kapal pecah. Semua barang berserakkan. Semua ide seperti berpencar mencari titik temu di sumbu-sumbu neuron. Tiga butir pil obat - yang aku sendiri tak tahu kegunaannya itu telah masuk ke dalam kerongkonganku. Mungkin kini mereka sudah sampai ke lambungku dan bersiap menuju usus halus. Jujur saja, kini rasanya semakin malas minum pil-pil obat itu. Obat klinik yang (katanya) mengobati sakit-sakit ringanku; flu, batuk, migrain, sampai alergi yang datang tanpa kusadari belakangan ini, rasanya tak ada pengaruhnya sama sekali. Sekali-dua kali minum, biasanya aku tinggalkan saja mereka di meja atau kadang tersimpan di tas dan terlupakan begitu saja.

Di meja masih ada lemon tea, sisa tadi sore. Segelas air putih penyerta minum obat juga berdiri kokoh di samping laptop yang juga sedari sore menyala dan tersambung kabel beraliran listrik. Nyamuk-nyamuk di kolong meja rasanya semakin senang saja mengisap darahku dan menyisakan gatal di kulitku yang tergolong cukup sensitif akan gigitan nyamuk.

Ini malam lumayan sepi.

Aku meneguk lemon tea yang kubeli tadi sore. Lemon tea yang kubeli berbarengan dengan sekotak pizza. Ya, derasnya hujan yang turun sejak pagi sampai sore hari ini membuat banyak orang di luar sana - termasuk aku enggan pergi ke pasar atau bahkan sekedar melangkahkan kaki ke dapur untuk membuat sarapan dan makan siang. Beruntungnya sekarang, hanya dengan mengandalkan koneksi internet di laptop kita sudah bisa memesan makanan tanpa khawatir pesanan kita lama tiba. Layanan pesan-antar itu kini menjamin, 30 menit sampai di tempat tujuan.

Pesanan pizza ku dikonfirmasi melalui email tepat pukul 15:09. 

Sambil menggerutu dengan laju koneksi internet yang turun-naik, aku terus memperhatikan jam. Apa benar mereka bisa datang tepat waktu seperti yang mereka janjikan di iklan online? Dalam waktu 30 menit pesanan sampai di rumah dengan kondisi hujan seperti ini mungkin mustahil. Jalanan menuju rumahku biasanya terkena  banjir temporer.

Benar saja. Pesananku terlambat 10 menit.

Kurasa tak perlu komplain. Kurir pizza itu datang dengan struk pembelian yang lecek dan agak basah. Raut wajahnya seperti lelah pasca mencari alamat rumahku yang agak berliku. Tangan kanannya membawa tas berisi pizza, dan tangan kirinya membawa tas yang berisi minuman. Aroma chiccarbonara classic pesananku sudah tercium. Pizza dengan taburan jamur, potongan ayam, serta sentuhan saus carbonara siap kusantap hangat-hangat sore ini. Sejak tidak diperbolehkan makan daging merah oleh dokter, aku selalu mengalihkan konsumsi hewani ku menjadi ayam atau ikan. Itupun dalam seminggu aku sudah mengalihkan segala jenis daging ke makanan lain.

Aku membuka kemasannya yang berbentuk kotak persegi itu. Aromanya sangat menggoda lidahku untuk langsung mencicipinya. Pizza itu terasa nikmat dengan potongan jamurnya yang kenyal dan ayamnya yang gurih. Tentunya delapan juring pizza itu tidak kulahap sendirian. Ada Ibu di rumah, dan kami makan bersama. Namun aku dan Ibu memiliki lambung yang tidak terlalu luas. Tiga juring yang ia makan dan empat juring yang aku makan membuat kami menyerah pada rasa kenyang.

Chiccarbonara classic yang aku pesan hari ini memang nikmat. Tapi setelah kupikir lagi, ini tak senikmat meat lover atau american favourite yang bertabur daging sapi cincang, smoked beef, jamur, keju mozarela dan potongan sosis sapi. Dulu aku menyantapnya saat di rumah ini masih ada banyak orang yang tinggal. Ramai. Namun hangat.

Setiap orang mungkin hanya mendapat 1-2 juring pizza, tetapi kami senang. Kami bisa saja bercanda karena taburan pizza siapa yang paling banyak dan sedikit. Kemudian biasanya selalu ada yang menghibahkan sepotong pizzanya untuk yang belum cukup kenyang atau sekedar ingin menambah saja. Kehangatan itu hanya bisa kuingat-ingat malam ini sambil tersenyum dan menatap potongan pizza terakhir yang ada di atas piring.

Nyatanya sekarang aku hanya berdua di rumah dengan Ibu. Kami menyantap chiccarbonara classic, dan bukanlah meat lover atau american favourite. Akupun sudah tidak bisa lagi mencicipi meat lover atau american favourite. Pandanganku sesaat terhenti pada segelas lemon tea, kemudian kembali menulis.

Jemariku masih berusaha menari di atas keyboard laptop, seolah meracau tak tahu apa yang ditulis. Entah harus dari mana aku menemukan secercah ide. Yang aku pikir hanya segelas lemon tea yang terlalu asam, dan segala kenikmatan sepotong pizza meat lover dan american favourite. Dan racauan otakku berkata bahwa sebenarnya ada banyak keindahan dan kesenangan yang harus kita tinggalkan karena sesuatu hal.

Ada banyak hal menyenangkan di masa lalu yang tidak bisa datang kembali dan harus kita tinggalkan.

Bukan karena hal-hal itu tidak baik. Belum tentu. Mungkin saja hal-hal itu baik, mungkin juga buruk. Tapi satu hal yang membuatku sadar, keputusan untuk tidak makan daging adalah untuk kesehatan. Agar tidak sakit lagi seperti dulu. Agar menjadi lebih baik. Lebih sehat.

Demikian dengan segala hal manis yang harus terpaksa kita tinggalkan. Bukan berarti hal itu buruk. Belum tentu. Mungkin kita harus meninggalkannya agar kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tiba-tiba lamunanku terpecah.

Rasa haus mengajakku untuk meraih lemon tea yang telah menjadi sepertiga gelas. Dan pizzaku masih ada satu potong di atas piring. Rupanya sudah ada sedikit ruang di lambungku untuk menampungnya setelah kekenyangan cukup lama. Tanganku meraih sepotong pizza di balik laptop.

Tapi aku kalah cepat.

Segerombolan semut sudah lebih dulu menyerbu sepotong pizza chiccarbonarra classic milikku.


(Mulai ditulis 28 Desember 2014, saat Jakarta sering hujan)

Jumat, Mei 15, 2015

Di Dalam Seteguk Vodka

Hanya ada dua gelas berisi vodka dan cahaya yang tak terlalu terang. Kami duduk berhadapan, kemudian bersulang. Hanya saling diam. Namun tatapannya, masih sama. Memiliki arti. Walau harus diterka terlebih dahulu.

Ia memulai dengan sapaan klise "Apa kabar?".
Aku diam, kemudian mengambil gelasku dan meneguk kembali. Aku hanya tersenyum, "Menurutmu bagaimana?"

Dia masih menatapku. "Kau tahu berapa banyak rinduku?". Aku menjawab, "Tidak tahu. Cuma yang aku tahu, rindu itu beranak pinak. Semakin dirasa, semakin banyak."

"Iya, rinduku banyak." Ia menimpali.

"Apa sebaiknya tak usah dirasakan saja? Agar tak semakin terasa menyiksa?". Aku berujar, sambil mengambil sehelai tisu.

Tak ada jawaban darinya. Mungkin ia tak sanggup mengatakan apapun, karena rindunya telah menumpuk.

Kami membisu dan saling menatap.

Aku mengangkat gelas, lalu mengajaknya bersulang tanpa sepatah kata.

Hanya membisu. Tak ada kata. Terdiam sampai vodka itu habis. Berharap di tiap teguk mengobati rasa ini.

Lalu kami berdua tersenyum.

Senyuman tergetir yang pernah kami bagikan satu sama lain.

Rabu, Mei 06, 2015

Bolehkah, Bu?

Hari ini Saya mengutarakan keinginan saya pada Ibu, untuk menindik salah satu telinga saya. Semenjak lulus SD saya ingin sekali memiliki lubang tindik di telinga lebih dari satu, tapi Ibu melarang. Dulu pernah sih Ibu bilang 'boleh', tapi rupanya itu hanya angin surga sesaat agar saya semangat belajar untuk ujian kelulusan SD. Selepas lulus dan masuk ke SMP yang diinginkan, Ibu melarang.

Kemudian hari ini pun tak ada beda.
Ibu masih melarang.

Kamis, April 23, 2015

Doa Malam

UntukMu, dalam riuh lalu lintas ibukota

kiranya resah ini tak usah datang terlalu sering
kiranya cinta ini tak usah muncul terlalu getir

kepada Engkau, aku titipkan doaku untuknya

kiranya Dia selalu menjagamu dimana saja kau berada
dalam hembusan nafas, kuikhlaskan segala doa malamku


Jumat, Desember 26, 2014

Kisah Saya dan Fibroadenoma Mammae

Kisah ini berawal pada awal Juli lalu di tahun ini. Tentang keluhan kesehatan yang sebenarnya sudah lama saya rasakan, namun baru terasa sangat tidak nyaman akhir-akhir ini. Ada satu tahun lebih saya merasakan adanya benjolan di payudara kiri saya, tapi tidak pernah saya ambil pusing karena saya pikir itu hanyalah kelenjar saja dan normal sifatnya.

Juli 2014
Saat itu saya merasa benjolan di payudara kiri saya semakin mengganggu. Ditambah adanya rasa gatal dan kondisi fisik permukaan kulitnya yang tidak seperti kondisi normal. Saat itu takut rasanya. Pikiran saya buyar dan terus memikirkan apa yang harus saya lakukan. Terlebih melihat silsilah keluarga dari ayah saya - kakak perempuan ayah, ada yang pernah menderita kanker payudara dan meninggal dunia beberapa tahun silam. 

Setiap hari pikiran saya hanya berputar-putar di sana. Takut dan bingung. Sementara semakin hari pula saya merasakan ketidaknyamanan fisik di payudara kiri saya. Rasanya tidak sakit jika tidak ditekan keras-keras, tetapi adanya benjolan sangat terasa setiap kali saya menyabuni tubuh saya saat mandi.

Pada waktu itu saya belum tahu persis gejala kanker payudara seperti apa. Tapi entah kenapa saat itu ketakutan saya seperti mengunci gerak langkah ini untuk mencari informasi tentang gejala kanker dan tumor. Rasanya bahkan seperti melihat hantu jika saat itu saya melihat judul artikel yang membahas tentang kanker payudara.

Ketakutan saya juga bertambah saat suatu hari tetangga saya ada yang meninggal dunia karena kanker payudara. Ibu saya dan teman-teman seperkumpulannya yang bergerak di bidang sosial lingkungan pernah membicarakannya di rumah. Mereka berbicara segala keluhan dan pengobatan yang pernah si almarhumah jalani. Mendengar itu, saya semakin terpojokkan rasanya. Ketakutan ini serasa berlipat ganda; saya takut sesuatu terjadi pada diri saya dan saya takut ibu saya khawatir atau semacamnya saat tahu keluhan saya ini.

Bulan Juli sebentar lagi sampai di ujung. Saat itu lebaran, tapi saya belum mampu memberitahukan keluhan saya ke ibu saya. 

Agustus 2014
Menggerakkan bibir ini untuk bicara seperti berat sekali.

Sebenarnya kali ini saya sudah hampir membicarakannya pada ibu tapi saya urungkan niat saya. Awal Agustus, Ibu saya harus ke luar kota selama seminggu untuk menghadiri acara keluarga. Saya tidak mungkin membebani pikirannya saat akan pergi ke luar kota.

Sementara itu saya jadi lebih sering sendiri di rumah. Dan lebih sering berpikiran yang tidak-tidak.

Suatu hari Ibu telepon dari luar kota untuk menyuruh saya ke dokter karena saya batuk berlarut-larut. Rasanya saya ingin bicara lewat telepon saja, tapi takut Ibu panik di sana. Akhirnya saya menunggu Ibu pulang ke Jakarta baru memberitahukannya semua.

Minggu kedua di bulan Agustus saya bilang semua ke Ibu. Dan Ibu biasa-biasa saja. Saya tahu Ibu berusaha tenang, tapi dalam hatinya kaget dan panik. Jantungnya mungkin berdegup kencang saat itu, tapi sikapnya tenang. "Besok kita periksa ke dokter ya.. "  Hanya itu kalimat yang ia katakan.

Akhirnya kami pergi ke dokter keluarga yang ada di dekat rumah. Dokter ini sangat paham riwayat kesehatan keluarga kami. Awalnya ibu berkonsultasi tentang batuk saya yang berlarut, kemudian ibu menanyakan benjolan di payudara kiri saya.

Saya hanya disuruh duduk dan membuka pakaian. Kemudian dengan posisi duduk, dokter hanya meraba payudara bagian bawah. Lalu terdiam. Setelah mengenakan pakaian saya kembali, saya duduk di depan meja konsultasinya.

Ibu saya menanyakan adanya benjolan tersebut pada dokter. Mimik wajahnya penuh kekhawatiran. Kemudian dokter memalingkan wajahnya dan bertanya pada saya, "Kamu suka nahan marah ya?". Saya terdiam. Saya tidak bisa mengiyakan sekaligus tidak bisa mengelak. Dokter saya ini memang seperti bisa membaca kondisi psikologis seseorang. Dia seperti sudah terbiasa melihat masalah kesehatan dari sisi psikologis. Teringat beberapa tahun lalu saat saya terkena chikunguya dan harus merasakan ngilu di persendian kaki, tangan dan jemari, saya hanya disuruh memejamkan mata dan olah nafas seraya berdoa, kemudian entah apa yang dia lakukan selama saya terpejam. Setelah beberapa lama, dan saya membuka mata, maka rasa ngilu di persendian saya hilang. Ajaib.

Ia bilang bahwa masalah kesehatan seperti ini lebih banyak disebabkan oleh stress dan pikiran. Memang, sejak kuliah saya semakin sering tidur larut malam untuk mengerjakan tugas-tugas. Tapi entah faktor penyebab yang mana yang paling dominan pada saya.  Sejak konsultasi saat itu, saya dianjurkan tidak terlalu lelah beraktivitas, tidak berpikiran negatif, dan menjaga pola makan.

Dokter juga menganjurkan saya konsultasi ke dokter ahli bedah.

***

Sesampainya di rumah, ibu saya seperti menahan panik. Ia mencoba tenang, sambil tangannya mengetik pesan singkat untuk adiknya (tante saya). Tante saya pernah kena kista di payudara kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, dan sembuh dengan obat - tanpa operasi. Ibu menanyakan soal dokter bedah ke tante saya. Percakapan melalui pesan singkat itu beralih ke percakapan telepon. Tentu saja tante saya kaget. Dia kira Ibu saya kenapa-kenapa. Tapi, dia lebih kaget lagi setelah dia tahu, saya yang kenapa-kenapa. Malam itu saya melihat tangis ibu pecah saat menerima telepon. 

Segera kami membuat jadwal untuk ke RS. Dharmais esok lusa, untuk deteksi dini kanker payudara.

Tepat hari Senin, saya diantar Ibu dan Tante memeriksakan diri ke unit deteksi dini kanker di RS. Dharmais. Yang saya tahu pemeriksaan payudara untuk deteksi dini dengan mammogram. Bayangan saya tentang deteksi dini kanker saat itu sudah mengerikan saja.

Unit deteksi dini kanker berada di basement, dekat dengan ruang radiologi. Ruangannya lumayan dingin. Pertama saya diwawancara singkat untuk mengisi kuesioner dari rumah sakit yang isinya pertanyaan-pertanyaan berkaitan pola hidup yang merujuk pada resiko kanker. Juga riwayat penyakit yang pernah diidap saudara yang kekerabatannya dekat. Setelah menimbang badan dan mengukur tinggi serta tensi, saya digiring ke kamar ganti pakaian. Saya disuruh mengganti baju dengan baju periksa. Suster bilang, saya bebas memilih warna bajunya. Dan sampai di ruangan, baju di lemari saya hanya menemukan dua warna. Hijau dan merah. Saya memilih hijau.

Berbalut baju periksa model kimono warna hijau, saya memasuki ruang periksa. Masih di unit deteksi dini. Dokternya perempuan, paruh baya. Dia menanyakan keluhannya berapa lama, apa yang dirasa dan keluhan-keluhan yang berkaitan. Kemudian dia menyuruh saya rebahan di tempat tidur periksa. Dia meraba payudara saya dan menemukan tiga benjolan di payudara kiri. Sedangkan di payudara kanan tidak ada.

Pemeriksaan unit deteksi dini selesai.

Kini saya digiring lagi menuju ruang radiologi, dimana saya akan di USG (bukan mammogram). Pasien di bawah usia 30 tahun tidak dianjurkan untuk mammogram akan tetapi USG. Lagi-lagi ruangannya dingin. Dan kali ini tambah dingin. Di ruang antre ada lumayan banyak pasien lain dengan keluhan yang sama menunggu namanya dipanggil untuk masuk ke ruangan USG. Saya agak gugup saat itu. Beruntung saya masih ditemani Ibu dan Tante saya. Kata Ibu, ayah saya akan menyusul sesaat lagi. Dia menunda meetingnya untuk ke rumah sakit. Sepertinya ibu baru memberi tahu ayah lewat pesan singkat saat itu. Sejak berpisah beberapa tahun silam, komunikasi ibu dan ayah saya tidak terlalu baik.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya nama saya dipanggil perawat. Saya sudah boleh masuk ruang USG - tanpa boleh ditemani siapa pun.

Dan rupanya, di ruangan itu masih ada proses antre lagi. Para pasien yang akan USG menunggu tepat di depan ruangan radiologi. Suasananya hening dan sangat dingin. Pasien lain ada yang saling berbincang mengenai keluhannya dengan santai. Tapi saya tidak. Tanpa ponsel, tanpa tas, tanpa apapun di tangan saya, saya hanya duduk melipat kaki satu di atas kaki satunya dan bersedekap. Gambar-gambar di dinding ruang tunggu rupanya cukup menyeramkan untuk dilihat.

Pikiran saya kemana-mana. Apakah USG itu sakit, atau tidak. Lama atau sebentar. Hanya pertanyaan itu yang ada di kepala saya. Sementara AC ruangan makin dingin saja.

(Mungkin) hampir setengah jam menunggu, setelah tiga pasien selesai USG, nama saya dipanggil. Di ruangan yang penerangannya agak redup itu saya dipersilahkan duduk di depan meja konsultasi dokter. Menunggu pasien sebelum saya berberes dari bilik periksanya. Tak lama dia selesai, saya masuk. Dokternya perempuan, dengan raut wajah yang serius. Dia mulai memeriksa saya dengan alat USG. Saya sadar, ada beberapa titik yang dia tandai di monitor. Kemudian saya tanya, ada berapa benjolan Dok? Tapi dokter itu enggan menjawab, dengan alasan tidak terlalu ingat. Lalu saya diam, sampai ada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter radiologi itu. Akhirnya proses USG yang berjalan kurang lebih 15 menit itu selesai juga. Saya boleh pulang untuk kemudian mengambil hasil USG esok lusa.

***

Rabu pagi, saya sudah ada di RS. Dharmais untuk mengambil hasil USG. Hasilnya diambil di unit deteksi dini di lantai basement. Kemudian hasil tersebut dibawa ke dokter umum deteksi dini yang memeriksa saya pertama kali. Menurut hasil USG, ditemukan lima benjolan dominan di payudara kiri dengan diameter berbeda-beda. Diagnosa awal mengatakan kalau itu tumor jinak. Akan tetapi masih harus dikonsultasika ke dokter ahli bedah tumor agar lebih akurat lagi.

Untuk itu, hari itu juga saya, ibu dan tante menuju unit Cendana RS Dharmais untuk bertemu dengan dokter ahli bedah onkologi. Selesai mendaftar, saya diperiksa tensi, berat badan dan tinggi badan. Kemudian menunggu dipanggil untuk masuk ruang periksa.

Di ruang periksa, saya bertemu dengan dokter Alban. Dokter Alban menyapa saya dengan ramah sesaat ketika saya masuk ruangan. Dia mengatakan, "Waktu tadi saya tanya suster, pasien selanjutnya siapa, saya heran kok namanya Cintra. Kok nama kamu Cintra?". Saya tersenyum. Pertanyaan yang sangat sering ditanyakan sepanjang umur saya. Sapaan dokter Alban barusan, mencairkan suasana hati saya yang tidak terlalu tenang. Di ruang periksa, saya melakukan pemeriksaan kembali. Kemudian dokter mencoba melihat hasil USG saya. Hampir sama dengan keterangan dari unit deteksi dini, ada lima tumor di payudara kiri saya dan semua wajib diangkat. Harus dan wajib dioperasi, kata dokter.

Mendengar keterangan dokter, saya tidak begitu panik. Malah sedikit tenang. Karena saya lega, telah mendengar apa solusinya. Selepas dari konsultasi dengan dokter bedah onkologi, kami pulang ke rumah. Perlu diskusi dengan keluarga perihal rencana operasi ini.

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke rumah sakit untuk menjadwalkan tanggal operasinya. Saat itu saya memilih untuk melewati masa menstruasi agar lebih nyaman. Maka, dipilihlah tanggal 11 September untuk operasi. Operasi tumor seperti saya sebenarnya bisa one day care alias sehari pulang, tapi saya dan keluarga memilih untuk rawat inap saja, mengingat efek dari bius total cukup membuat pusing. 


September 2014
Konsekuensi dari memilih rawat inap adalah saya harus mencari kamar rawat inap untuk hari H. Dan mencari kamar di RS. Dharmais sangat sulit, sebab banyak pasien-pasien kanker di sana bergantian keluar masuk rumah sakit untuk kemoterapi. Pasien operasi seperti saya harus 'waiting list' kamar dulu kalau ingin dapat kamar di hari H. Waktu itu saya ikut daftar tunggu pemesanan kamar kelas satu dan masih ada dua minggu menuju hari operasi saat itu.

Sembari rajin menelepon rumah sakit untuk menanyakan ketersediaan kamar, saya pun menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan pra operasi. Sebelum operasi, saya diharuskan untuk ambil darah untuk pemeriksaan lab dan rontgen tulang rusuk. Cek darah dilakukan dua hari sebelum operasi, dan saat itu saya belum juga mendapatkan kamar.

Sempat terpikir untuk pindah rumah sakit namun ayah saya kurang setuju. Alhasil, saya ikut 'waiting list' kamar VIP dan membatalkan 'waiting list' kelas satu agar lebih cepat mendapatkan kamar. Alhamdulillah, saya dikabarkan mendapat kamar di H-1.

***

Tanggal 10 Sepetember, saya sudah harus masuk kamar rawat inap. Dari rumah saya berkemas baju, peralatan dan berkas-berkas rumah sakit. Saat itu pukul tiga dan saya sudah duduk di ruang tamu menunggu ibu yang sedang berkemas, bersiap-siap untuk berangkat.

Namun, tak lama ponsel saya berdering. Telepon panggilan dari Suster Theresia, dari rumah sakit.

Suster bilang, operasi saya diundur menjadi tanggal 12 karena Dokter Alban ada jadwal operasi mendadak. Dan saya tetap menginap dari tanggal 10, mengantisipasi sulit dapat kamar.

Kamar saya di lantai 7

***
Dua hari menunggu detik-detik operasi lumayan membosankan. Hanya ada televisi dan ponsel di kamar. Saya lupa membawa buku gambar saya dan pernak-perniknya. Dan dua hari banyak saya habiskan bersama ponsel, membaca media online dan mengobrol dengan teman-teman lewat LINE atau whatsapp. Ada juga satu-dua orang teman yang sempat menjenguk sebelum operasi.

H-1 operasi saya disuruh puasa dari pukul 12 malam. Semakin dekat dengan hari operasi, kadang membuat saya mual pasca makan. Semacam stress atau entahlah.

Tanggal 12 Sepetember tiba.

Pagi hari semakin banyak saja keluarga yang menjenguk. Saya dijadwalkan operasi tanggal 12 September, pukul 12 siang di hari Jumat. Sekitar pukul 11:45 saya dibawa menuju lantai 3 ruang operasi. Di ruang itu semua keluarga berkumpul, diberi waktu beberapa menit untuk berdoa bersama sebelum masuk ruang operasi.

Ibu saya

Ayah saya

Tante saya

Setelah beberapa menit berdoa bersama, saya dibawa masuk ke ruang operasi. Di ruang operasi yang dingin itu terdengar Let it Go - nya Demi Lovato dan - entah apa judulnya, lagunya Raisa. Ada beberapa perawat yang memasangkan alat di tubuh saya. Ada yang memasang infus, ada yang memasang alat sensor detak jantung dan tensi. Tak lama berselang, Dokter Alban datang dan melihat hasil rontgen dan USG saya. Setelah itu dia menghampiri saya yang sejak berdoa tadi meneteskan air mata terus menerus. "Cintra, sebelum kita mulai operasinya, ada yang ingin Cintra sampaikan ke saya?"  Pertanyaan dokter Alban membuat saya mengernyitkan dahi dan berpikir, "Memangnya saya mau mati, Dok?" 

Saya akhirnya menggelengkan kepala. Dan suntikan anestesi mulai dimasukkan lewat infus. Seketika, semua pandangan saya kabur dan lampu-lampu di atap ruangan serasa berjalan. Sejak itu saya tidak sadar lagi apa yang terjadi.

***

Terdengar sayup-sayup suara tayangan televisi, dan saya mencoba membuka mata saya. Saya tidak mengenali ruangan dimana saya berada saat itu. Di sebelah kanan dan kiri saya ada pasien yang juga berpakaian hijau terkapar tak berdaya seperti saya. Mereka masih dipasang infus, sedangkan saya tidak. Masih meneteskan air mata, saya melihat ke dinding. Pukul 15:10. Dada saya sesak seperti ditekan sesuatu secara kuat. Saya bertanya-tanya ke diri sendiri, apakah operasinya sudah selesai?

Seorang dokter co-ass datang mendekati saya. Ia mencopot selang oksigen di hidung saya. Lalu saya bertanya, infus saya kemana. Dia menjawab, infus saya ada, lalu dia merapikan selimut saya. Saya akhirnya tersadar jika dada saya terbebat perban pasca operasi. Bebatnya sangat kencang dan membuat saya agak sesak nafas. Kemudian saya terdiam seraya menunggu giliran saya dipindahkan ke ruangan saya di lantai 7.

Pasien di sebelah kanan dan kiri saya sudah dipindahkan ke ruangannya. Tapi selang setengah jam, saya belum dipindahkan juga. Dokter co-ass bilang, kunci kamar saya dibawa salah satu anggota keluarga jadi belum bisa dibuka oleh perawat. Namun, lima menit kemudian kegelisahan saya menunggu dipindahkamarkan usai juga.

Di ruangan tempat saya berdoa tadi, saya dipindahkan dari tempat tidur operasi ke tempat tidur rawat inap. Saya didorong menuju lantai 7. Pandangan saya masih kabur. Tapi saya tahu persis siapa saja yang ada bersama saya saat itu.

Sesampainya di kamar, sudah ada banyak orang. Teman-teman, kerabat, dan keluarga dekat ada semua. Entah kenapa saya masih meneteskan air mata. Hingga dua teman kuliah saya menghampiri saya, saya mulai bisa tersenyum dan membalas sapaannya. Hanya saya belum bisa banyak bergerak, karena sedikit saja pergerakkan rasanya seperti menarik luka operasi. Satu hal yang saya tahu; tumor saya sudah diangkat.

Bersama teman-teman

Tumor yang telah diangkat 
Hari-hari pasca operasi
Setelah dirawat selama satu minggu pasca operasi, saya diperbolehkan pulang. Masih dengan bebat di dada dan tidak boleh terkena air. Satu minggu kemudian barulah saya kontrol ke RS dan perban boleh dibuka. Ada dua selang yang dipasang di luka operasi dan itu menyeramkan untuk saya.

Sejak masa pemulihan, saya masih harus kontrol ke rumah sakit dan mengambil hasil cek lab patologi. Alhamdulillah, tumor yang telah diangkat itu tergolong jinak dan tidak perlu penanganan khusus lagi pasca operasi. Hanya saja, saya sudah tidak diperbolehkan makan daging merah (daging yang berasal dari hewan berkaki empat), makanan berMSG, dan berpengawet. Saya dianjurkan mengurangi asupan-asupan hewani yang tidak alamiah, seperti ayam negeri dan ikan air tawar. Saya juga tidak diperbolehkan makan kacang terlalu sering karena dapat memicu hormon estrogen.

Salah satu faktor penyebab masalah kesehatan seperti yang saya alami adalah laju hormon estrogen yang berlebih. Ada banyak faktor memang, termasuk pola hidup yang tidak sehat dan stress. Tapi alangkah baiknya saya menjauhi faktor-faktor penyebab itu. Sebab tumor bisa jadi muncul kembali jika kita tidak menjaga pola hidup kita. Oh, ya.. Jangan lupa juga bagi kalian yang perempuan, untuk SADARI (Periksa Payudara Sendiri) setiap satu minggu setelah selesai menstruasi ya..

Semoga kita dapat selalu sehat dan menjaga kesehatan :)


Salam sayang,

Cintra